
Memanfaatkan potensi sumber daya alam merupakan sebuah tantangan. Usaha ini dapat meningkatkan kelestarian lingkungan, namun, di sisi lain dapat menyebabkan kerusakan alam. Potensi yang ada dalam lingkungan senantiasa akan memberikan manfaat berlimpah bagi keberlangsungan hidup masyarakat, namun ada tugas utama yang harus masyarakat emban, yaitu memprioritaskan kelestarian alam. Hal ini dirasakan oleh Dewi, perempuan berusia 21 tahun, yang merupakan salah satu warga Desa Warloka Pesisir, Manggarai Barat, NTT. Dengan semangat membawa perubahan, ia aktif menjadi anggota Pokdarwis(Kelompok Sadar Wisata). Bersama Pokdarwis, Dewi memanfaatkan mangrove di daerahnya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dan menjadikannya sebagai objek wisata, tetapi dengan tetap menjaga kelestariannya.
Potensi Baru Hutan Mangrove
Perjalanan eksplorasi Dewi dimulai saat dirinya berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi Pokdarwis. Di sini, ia menjadi tahu beragamnya destinasi wisata yang ada di desanya. Kegiatan ini adalah salah satu aktivitas dalam program PEKA IKLIM (Penguatan Ketahanan Iklim). PEKA IKLIM merupakan program kolaborasi Yayasan Bina Karta Lestari (Bintari) bersama Arbeiter-Samariter-Bund (ASB) South and South-East Asia.
Pokdarwis mengajak Dewi dan warga Desa Warloka Pesisir untuk mengenali dan mendorong pariwisata berkelanjutan. “Karena penasaran, ikutan pertemuan malam – malam Pokdarwis. Dulu belum tau kalau disini spot wisatanya banyak dan bagus – bagus. Setelah masuk, saya jadi makin tahu potensi wisatanya,” ucapnya.
Pokdarwis juga membuka potensi destinasi wisata baru dari sektor lain di Desa Warloka Pesisir, seperti hutan mangrove di pesisir desa. Sebagai anggota Pokdarwis, Dewi melihat potensi hutan mangrove untuk wisata yang sekaligus dapat mendukung kelestariannya
“Sebelumnya (saya) tidak (bekerja) di mangrove, tapi di bagian wisata. Waktu itu, saya baru tahu ternyata mangrove ada hubungannya dengan pariwisata. Kan kalau kita punya mangrove yang bagus bisa jadi spot wisata,” ucap Dewi.

Potensi wisata mangrove ini didasari manfaat yang ia rasakan dari mangrove bagi perekonomian masyarakat dan perannya dalam mengurangi kerusakan lingkungan, seperti mengurangi abrasi, penghalang alami bagi tsunami, dan habitat untuk bermacam binatang, seperti kepiting. Manfaat-manfaat itulah yang menjadi motivasi baginya untuk terus belajar mendalami mangrove dan mengembangkan potensi mangrove. Dengan rasa penasaran dan kemauan belajar yang tinggi, Dewi berhasil membudidayakan mangrove di pesisir desanya serta mengajak lebih banyak masyarakat untuk terlibat dalam budidaya mangrove ini. Berbekal ilmu tentang jenis – jenis mangrove, cara menanam dan mengelola mangrove, dan cara menyampaikan ke wisatawan, Dewi semakin termotivasi dan yakin dengan gagasan mangrove sebagai ekowisata.
Kesempatan dan Tantangan Ekowisata Mangrove

Gagasan mangrove sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan bukan hanya sekadar angan-angan belaka. Dewi terus berproses melalui berbagai kesempatan-kesempatan yang datang menghampirinya.
“Ada wisatawan yang beberapa kali kesasar di Warloka Pesisir. Bagi saya, (kesempatan ini) merupakan potensi untuk mengenalkan wisata di daerah sini. Saya pun belajar cara bicara kepada tamu dengan memperkenalkan diri sebagai pemandu di Warloka Pesisir. Saya bawa (mereka) ke hutan mangrove lalu menceritakan tentang cara budidaya mangrove, manfaatnya, dan bagaimana saya menyemai dan menanamnya. Menurut mereka, itu adalah hal menarik dan positif,” tuturnya.
Dalam perjalanan proses mengembangkan ekowisata mangrove ini, tentu Dewi menghadapi berbagai tantangan. Tantangan tersebut yang bertumpu pada kesadaran masyarakat yang sebagian masih acuh tak acuh terhadap pelestarian mangrove. Namun, di balik tantangan tersebut, Dewi tetap optimistis dan bersemangat untuk ikut andil dalam pengembangan kapasitas.
“Semoga (dengan) semakin banyaknya mangrove, semakin banyaknya juga manfaat yang bisa para warga rasakan. Warga pun akan semakin banyak yang tergerak hatinya untuk bergabung, karena ternyata mangrove banyak ya manfaatnya untuk kehidupan sehari – hari,” pungkas Dewi.