
Di Desa Repi, Sriastana Herinat menjalani peran ganda sebagai guru dan anggota kelompok tani PPTPI. Awalnya, keterlibatannya dalam kelompok lebih berfokus pada produksi, tanpa banyak mempertimbangkan isu kesetaraan dan inklusi. Ia bahkan mengakui bahwa dulu ia sering memandang penyandang disabilitas sebagai “berbeda”.
“Dulu saya kadang menertawakan, karena merasa mereka berbeda,” ungkap Sri.
Seiring keterlibatannya dalam berbagai proses pembelajaran, cara pandang Sri mulai berubah. Ia mulai memahami bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk dihargai dan dilibatkan.
“Sekarang saya tidak lagi membedakan. Saya bisa berinteraksi seperti teman biasa,” katanya.
Perubahan ini tidak hanya terjadi pada dirinya, tetapi juga dalam kelompok tani yang ia ikuti. Melalui penggunaan GEDSI checklist, kelompok mulai menyadari pentingnya data pilah dan pembagian manfaat yang lebih adil sebagai bagian dari pengelolaan usaha tani yang berkelanjutan dan inklusif. Namun, proses ini tidak selalu mudah. Sri harus membagi waktu antara mengajar dan kegiatan kelompok, serta menghadapi rasa kurang percaya diri saat berbicara di depan umum.
“Tapi karena sering diberi kesempatan bicara, lama-lama saya jadi lebih berani,” ujarnya.
Kini, Sri tidak hanya aktif sebagai anggota, tetapi juga mengambil peran sebagai fasilitator di tingkat desa. Ia mulai berani menyuarakan pentingnya partisipasi perempuan dan kelompok marjinal, bahkan dalam ruang-ruang yang sebelumnya terbatas.
Bagi Sri, perubahan ini menunjukkan bahwa praktik pertanian yang berkelanjutan tidak hanya soal hasil, tetapi juga tentang bagaimana kelompok dikelola secara adil dan inklusif.
“Yang paling penting, kita harus saling menghargai dan tidak membedakan,” tutupnya.
Author: Jane Tampubolon (MEAL Officer for HARMONI Project)