
Bekerja di usia senja merupakan sebuah tantangan. Namun, hal itu bukan merupakan suatu hambatan untuk berhenti berinovasi. Saripa, seorang ibu dari 3 anak, yang tinggal di Desa Warloka Pesisir, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, telah membuktikan bagaimana dirinya sebagai perempuan yang berusia senja masih aktif membuka peluang dari hal-hal yang tersedia dan ikut andil dalam penguatan kapasitas masyarakat. Dengan pemikiran yang inovatif, Saripa berhasil menepis keterbatasan pengetahuan dan hambatan akses. Dia berinovasi dan menjadi penggerak UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah).
Belajar dan Beraksi
Berawal dari Saripa yang merasa tidak mampu lagi menjual ikan mentah keliling di usia senja, karena dari jam 8 pagi hingga 4 sore Ia harus berpindah dari satu desa ke desa lainnya, ia pun mencari akal untuk mengolah ikan agar dapat meningkatkan nilai jual. Ikan buaya menjadi pilihannya untuk dijadikan abon. Di balik banyaknya ikan – ikan yang bagus di Desa Warloka Pesisir, pemilihan ikan buaya menjadi suatu keunikan, karena bentuk kepala ikan ini seperti buaya yang melahirkan kepercayaan masyarakat untuk tidak tertarik mengambilnya dan menyisihkannya dari hasil tangkapan. Dari idenya untuk mengolah ikan buaya pun menyingkap manfaat baru, terutama bagi wisatawan, yaitu salah satu manfaat mengonsumsi ikan buaya 100 gram per hari dapat sembuhkan bekas operasi.

Usia Saripah mulai beranjak senja. Ia pun merasa tak mampu lagi untuk menjajakan ikan keliling dari desa ke desa. Padahal, sebelumnya Saripah mampu berkeliling dari jam 8 pagi hingga 4 sore. Saripa kemudian memutar otak dan mencari akal untuk mengolah ikan agar nilai jualnya meningkat. Ia pun menemukan bahwa ikan buaya berpotensi untuk diolah menjadi abon. Ikan buaya memiliki keunikan, yaitu mempunyai kepala berbentuk seperti buaya. Karena bentuknya ini, masyarakat sekitar menyisihkannya dari hasil tangkapan. Seiring waktu, dari upayanya untuk mengolah ikan buaya menjadi abon, ternyata ada manfaat lain dari ikan tersebut. Siapa saja yang mengonsumsi ikan buaya sebanyak 100 gram per hari dapat mempercepat kesembuhan bekas operasi.

Sayangnya, dengan produk yang sudah ia hasilkan, ia memiliki keterbatasan pengetahuan dalam memperdagangkan produk dan tidak tau harus memasarkannya kemana. Di balik itu, program PEKA IKLIM (Penguatan Ketahanan Iklim) pun datang untuk menjembatani dan membantunya dalam berperan sebagai salah satu pembawa perubahan dan penggerak UMKM di Desa Warloka Pesisir. Program ini merupakan program kolaborasi Bina Yayasan Lestari (Bintari) bersama Arbeiter-Samariter-Bund (ASB) South and South-East Asia yang bertujuan mendorong kapasitas pariwisata berkelanjutan dalam hal peningkatan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
“Tahun 2022, saya ikut sosialisasi PEKA IKLIM. Di situ ada beberapa divisi, salah satunya UMKM. Setelah itu, terbentuklah kelompok UMKM Warloka Aneka Rasa. Program PEKA IKLIM membimbing atau mengarahkan, seperti salah satunya mereka memberikan kami peralatan untuk pembuatan produk, karena sesungguhnya kalau menciptakan produk sendirian tidak bisa dalam skala besar. Selain itu juga memfasilitasi sampai produk – produk menjadi halal serta dikenal masyarakat luas”, kata Saripa.

Dengan kemauan belajar yang tinggi, Saripa tak berhenti mengasah kemampuan untuk membuat terobosan. Setelah abon ikan buaya, ia menambah produknya, yaitu sambal ikan asap, abon ikan sunu, dan asam mangga. Dengan semua itu, Saripa percaya hal-hal yang ia lakukan bersama UMKM Warloka Aneka Rasa bukanlah sekedar menghabiskan waktu saja, tapi akan membuahkan hasil yang bermanfaat. Modal pembelajaran dan alokasi peralatan yang ia peroleh dari PEKA IKLIM pun mendukung produknya semakin dikenal masyarakat luas.
“Pertama kali ikut festival tahunan Golokoe, kami dapat pelanggan sangat banyak. Kami diminta agar produk kami tetap memiliki stok. Alhamdulillah, penyambutan masyarakat sangat baik, bahkan kami sampai kewalahan. Nah, kalau sekarang kami sudah bekerja sama dengan toko oleh-oleh Exotic. Pertama kalinya, kami masukkan produk sambal ikan asap, lalu bulan depan kami mau masukkan abon. Kini, setiap kegiatan pameran, kami diminta hadir.”
Kemampuan produksi yang lebih baik ditambah meluasnya pemasaran mampu membuat UMKM Warloka Pesisir lebih konsisten dalam menambah jumlah produksi sehingga berdampak positif pada hasil penjualan.
Di Balik Tantangan Pemberdayaan Masyarakat

Tantangan demi tantangan tentu Saripa hadapi saat menjalani kegiatan bersama kelompok UMKM Warloka Pesisir.
“Awalnya kurang kekompakan, tapi karena punya tekad bersama agar UMKM berjalan, maka bisa diatasi. Membentuk kelompok UMKM ini membutuhkan kesabaran dan komitmen yang nantinya akan menciptakan hal lebih besar lagi”, ucap Saripa.
Dengan semangat menentang keterbatasan dan tantangan, pemberdayaan masyarakat lewat implementasi program PEKA IKLIM telah sukses membawa Saripa bersama UMKM Warloka Aneka Rasa melampaui yang tidak terbayangkan.
“Saya punya semboyan, ‘waktu adalah uang’ jika kita sehari-hari hanya duduk, ngerumpi. Apa yang kita dapat?” ucapnya.
Berkat semboyan yang ia tanamkan dan diiringi niat yang kuat, komitmen, dan kebersamaan anggota, produk-produk yang dirilis telah mendapat pengakuan HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) dan permintaan pasar pun semakin meningkat. Dengan bekal ini, ke depannya, Saripa akan terus aktif meningkatkan kapasitas masyarakat yang ada di sekitarnya melalui UMKM Warloka Aneka Rasa.