Membangun Desa Tangguh: Suara Masyarakat Mentawai dalam Pendampingan HVCA (Hazard, Vulnerability, and Capacity Assessment)

Program GREAT (Gender Responsive and Inclusive Adaptation for Disaster and Climate Change Adaptation) Mentawai hadir sebagai bagian inisiatif global yang berupaya menguatkan peran perempuan dan penyandang disabilitas di Asia Selatan dan Asia Tenggara dalam menghadapi tantangan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Adaptasi Perubahan Iklim (API). Program ini dijalankan melalui kemitraan dengan Arbeiter-Samariter-Bund (ASB) South and South-East Asia dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi Jerman (BMZ). Bersamaan dengan negara lain seperti Bangladesh dan Filipina, GREAT Mentawai menjadi bagian dari gerakan global untuk membangun ketangguhan komunitas yang inklusif dan berkelanjutan di tengah perubahan iklim yang semakin nyata.

Program GREAT Mentawai berfokus pada empat desa intervensi, yaitu Desa Sipora Jaya dan Desa Sidomakmur di Kecamatan Sipora Utara serta Desa Sioban dan Desa Matobe di Kecamatan Sipora Selatan. Mitra Pelaksana program ini yaitu JEMARI Sakato yang berlangsung selama periode 2024 hingga 2027.

Salah satu kegiatan utama yang telah berjalan selama satu tahun implementasi program adalah pendampingan Hazard, Vulnerability, and Capacity Assessment (HVCA). HVCA merupakan langkah partisipatif yang melibatkan masyarakat dalam menggali potensi bahaya, kerentanan, serta kapasitas lokal mereka untuk membangun ketangguhan terhadap bencana. Pendampingan ini sangat penting dalam mengidentifikasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Adaptasi Perubahan Iklim (API) dalam sebuah wilayah, karena membantu masyarakat, pemerintah, maupun pihak lainnya untuk mengetahui risiko bencana yang terjadi dan memudahkan mitigasi terhadap bencana yang akan datang.

Proses yang Bertahap dan Berstruktur

Pelaksanaan HVCA di empat desa dampingan GREAT Mentawai bukan sekadar rangkaian kegiatan teknis, tetapi menjadi proses pembelajaran kolektif yang tumbuh dari partisipasi dan semangat warga desa. Proses ini berlangsung bertahap dan terstruktur, dimulai dari diskusi, Focus Group Discussion (FGD), lokakarya, hingga musyawarah desa yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Menariknya, beberapa desa dampingan GREAT Mentawai seperti Sipora Jaya, Matobe, dan Sioban sudah pernah mendapatkan pelatihan yang serupa. Namun, pendekatan advokasi dari JEMARI Sakato memberikan pengalaman yang berbeda karena lebih mendalam, partisipatif, dan melibatkan semua pihak. Sedangkan untuk desa Sidomakmur pendampingan ini menjadi pengalaman pertama.

Pendampingan HVCA dimulai dengan memperkenalkan konsep dasar serta alat Participatory Rural Appraisal (PRA) yang membantu dalam mengkaji dan memetakan bahaya, kerentanan, dan kapasitas masyarakat secara nyata. Pengenalan konsep ini dilakukan dengan Lokakarya HVCA yang mana peserta kegiatan ditunjuk langsung oleh perangkat desa untuk mewakili kelompok-kelompok yang ada di masyarakat, seperti PKK, Kelompok Siaga Bencana (KSB), kelompok berisiko, kelompok pemuda, hingga sekolah lapang.

Dari pelatihan yang sudah dilakukan, lahirlah kader HVCA masing-masing desa sebagai motor penggerak yang kemudian turun langsung dalam menggali informasi ke masyarakat. Mereka menggali pengetahuan lokal mengenai bahaya, kerentanan, dan kapasitas yang dimiliki oleh kelompok mengenai bencana yang terjadi di lingkungan mereka. Proses ini bukan hanya kebutuhan data serta penggalian informasi saja, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri masyarakat untuk menjadi pelaku utama dalam membangun ketangguhan di desa.

Pelaksanaan HVCA oleh masyarakat desa menggunakan alat PRA

Menetapkan Prioritas Bersama: Dari Pemetaan Risiko Menuju Aksi Nyata

Setelah melalui proses panjang mulai dari diskusi, lokakarya, dan pendampingan yang partisipasif, hasil dari HVCA tampak lebih nyata. Warga di empat desa dampingan kini tidak hanya memahami potensi bahaya di sekitar mereka, tetapi juga mampu menentukan langkah-langkah prioritas untuk membangun ketangguhan desa.

Salah satu tujuan utama dari HVCA yaitu menghasilkan Rencana Aksi Komunitas (RAK) yang terintegrasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Adaptasi Perubahan Iklim (API) yang inklusif. RAK merupakan dokumen rencana yang disusun secara pastisipatif oleh masyarakat berdasarkan permasalahan, potensi, dan kebutuhan. Sehingga, melalui RAK ini, masyarakat dapat menentukan langkah-langkah atau aksi bersama yang akan dilakukan untuk mengurangi risiko bencana, memperkuat komunitas, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Melalui serangkaian diskusi di tingkat dusun hingga musyawarah desa, masyarakat bersama pemerintah desa menyepakati berbagai isu prioritas yang ada dalam RAK untuk dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes). Sehingga, isu prioritas tersebut bisa menjadi perhatian penting bagi pemerintah desa serta kabupaten untuk ditindaklanjuti.

Pembacaan Prioritas Desa untuk diajukan dalam RPJMDesa dan RKPDes

Di Desa Sidomakmur, misalnya, hasil diskusi menunjukkan bahwasanya pengelolaan air bersih menjadi perhatian utama. Sekretaris Desa, Talsudin, menuturkan bahwa dusun yang ada di Desa Sidomakmur masih kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi ini berdampak besar bagi perempuan di rumah tangga, yang harus menghabiskan banyak waktu untuk mencari air bagi keluarganya. Untuk itu, desa sepakat menjadikan pengelolaan air bersih dan layak sebagai prioritas utama pembangunan. Selain itu, penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menegah (UMKM) juga menjadi fokus penting bagi pemeritah desa untuk mendukung kemandirian ekonomi warganya. Begitupun dengan Desa Matobe, yang mana prioritas mereka juga berkaitan dengan pengelolaan air bersih dan layak serta penguatan UMKM.

Sementara itu, di Desa Sioban, Ketua PKK, Rismelina, mengungkapkan bahwa melalui proses HVCA, masyarakat semakin menyadari pentingnya pengelolaan sampah di desa untuk meningkatkan kesehatan. “Melalui HVCA, kami melihat betapa krusialnya pengelolaan sampah di Desa Sioban karena ini berkaitan untuk kesehatan dan kebersihan desa,” ujarnya. Sehingga, pengelolaan sampah desa menjadi prioritas Desa Sioban yang diusulkan dalam RPJMDes dan RPKDes.

Dari berbagai proses ini, terlihat bahwa HVCA bukan sekedar alat pemetaan risiko, tetapi juga jembatan bagi masyarakat untuk menyuarakan kebutuhan mereka dan mengubah hasil diskusi menjadi arah nyata pembangunan desa.

Kesadaran dalam Kesiapsiagaan dan Perubahan Iklim

Dari proses pendampingan HVCA, perlahan muncul perubahan cara pandang masyarakat terhadap lingkungan dan ancaman bencana di sekitar mereka. Kesadaran ini tumbuh dari pengalaman belajar bersama terhadap pemahaman risiko hingga menentukan langkah nyata untuk melindungi diri dan lingkungan mereka.

Di Desa Sioban, Ketua PKK Rismelina mengakui bahwa kegiatan HVCA membuka wawasan baru bagi masyarakat yang hidup di daerah rawan bencana, “Melalui kegiatan HVCA ini, saya lebih bisa memutuskan tindakan yang dapat dilakukan jika terjadi bencana. Selain itu, Desa Sioban merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan laut, sehingga memberikan kami pengetahuan dalam mengantisipasi dan menghadapi bencana yang akan datang,” tuturnya.

Selain itu, Kepala Dusun sekaligus fasilitator HVCA Desa Matobe, Parulian, mengaku awalnya ia tidak begitu peduli dengan isu kebencanaan. Namun setelah ikut dalam pendampingan yang difasilitasi oleh JEMARI Sakato, pandangannya berubah. “Sejak ikut pendampingan JEMARI, saya menjadi lebih paham risiko yang mengancam desa kami. Sekarang saya bisa memutuskan perihal antisipasi dan mengurangi dampak dari bencana yang akan datang,” ujarnya.

Sementara itu, Di Desa Sipora Jaya, Kaur Perencanaan, Sipora Wati, mengaku banyak belajar dari HVCA, terutama dalam hal mengaitkan analisa risiko dengan ketahanan pangan. “Cuaca yang tidak menentu di Kabupaten Kepulauan Mentawai, membuat masyarakat Kabupaten Kepulauan Mentawai sulit memprediksikan pasokan pangan yang datang karena bergantung pada kapal yang datang ke Pulau Sipora. Untuk mengantisipasi itu, saya mulai menanam sayuran di kebun sendiri dan komoditi lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” jelasnya.

Komoditi Kebun PKK Desa Sipora jaya

Dari penjelasan ini, jelas terlihat bahwa HVCA bukan hanya tentang mengenali bahaya, tetapi juga menumbuhkan kesadaran, membangun kemandirian, dan tanggung jawa bersama untuk menjaga masa depan desa.

Inklusivitas: Ketika Semua Suara Mulai Didengar

Salah satu perubahan yang paling signifikan dari proses pendampingan HVCA adalah tumbuhnya kesadaran akan pentingnya inklusivitas. Pemerintahan desa menyadari bahwa pelibatan seluruh aspek masyarakat sangat dibutuhkan dalam kegiatan, termasuk pelibatan penyandang disabilitas perempuan dalam diskusi serta perencanaan desa.

Sebelumnya, pada beberapa desa dampingan, pelibatan perempuan dan penyandang disabilitas dalam kegiatan desa sangat minim dan hanya sebatas “hadir”, tanpa benar-benar diberi ruang untuk bicara. Namun, melalui Program GREAT Mentawai, pemerintah desa mulai terbuka terhadap partisipasi yang lebih besar, meminta pendapat, dan mempertimbangkan kebutuhan dari berbagai kelompok masyarakat.

Perubahan itu terasanyata di Desa Matobe. Supono, Kasi Tata Pemerintahan Desa Matobe, mengungkapkan bahwa kegiatan HVCA bukan hanya memberikan pemahaman baru terhadap risiko bencana, tapi ruang partisipasi yang inklusif. “Semua orang terlibat, termasuk penyandang disabilitas. Mereka diberikan kesempatan menyampaikan pendapat, walaupun awalnya masih ada yang ragu dan takut, tapi kegiatan ini membangun kepercayaan diri mereka dalam memberikan masukan untuk desa sesuai kebutuhan mereka,” ujarnya.

Tahun ini bahkan untuk pertama kalinya Desa Matobe menggelar musyawarah khusus perempuan dan penyandang disabilitas. Hal ini didorong karena kebutuhan perempuan dan penyandang disabilitas dalam kebencanaan maupun pada pemerintah desa lebih detail, sehingga dari hadirnya mereka bisa menjelaskan kebutuhan masing-masing. Sebuah langkah maju agar kelompok yang biasanya tidak percaya diri di forum bersama laki-laki bisa lebih berani bersuara.

Musyawarah Perempuan dan Penyandang Disabilitas di Desa Matobe

Perubahan juga dirasakan oleh Kepala Desa Sipora Jaya, Lutfiyanto. Ia melihat perempuan yang biasanya hanya diam dalam forum kini mulai berani menyampaikan aspirasi. Usulan-usulan yang diberikan oleh perempuan di desa direspon positif dan masuk dalam RPJMDes, khususnya terkait mitigasi bencana.

Dari sinilah, HVCA menjadi lebih dari sekadar proses identifikasi risiko tetapi juga menjadi Gerakan sosial yang menumbuhkan rasa percaya diri, membuka ruang keadilan, dan memastikan bahwa pembangunan desa benar-benar untuk semua masyarakat tanpa memandang siapapun.

Perubahan Melalui Kesadaran Kolektif

Perubahan yang terjadi di Desa Sido Makmur, Desa Sipora Jaya, Desa Matobe, dan Desa Sioban terjadi secara bertahap dan hasil kerja sama semua pihak. Kepemimpinan lokal yang terbuka atas informasi dan kerja sama menjadi kunci dari kegiatan yang dilakukan. Dalam hal ini, JEMARI Sakato melalui Program GREAT Mentawai merupakan pihak yang membantu berjalannya proses ini sesuai dengan tujuan.

Ketika seluruh aspek dalam masyarakat bersedia untuk berpartisipasi dalam mendengar, belajar, dan bertindak sesuai dengan kebutuhan dan tanggung jawab mereka maka kerja sama dengan pihak eksternal akan menjadi lebih efektif. Hal ini secara perlahan akan memberikan gambaran bagi desa untuk bisa bergerak maju sesuai kebutuhan dan tangguh terhadap bencana dan perubahan iklim menuju desa yang mandiri.

Share this article