Sebelumnya di Padukuhan Gebang, Kalurahan Girisuko, Kabupaten Gunungkidul, Indonesia, pagi hari dimulai dengan perhitungan yang cukup sulit.
Berapa banyak air yang tersisa di tangki penyimpanan. Apakah air itu akan cukup hingga truk pengiriman berikutnya datang. Kebutuhan akan air mana yang bisa ditunda, dan mana yang tidak.
Bagi keluarga di padukuhan ini, air bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan dengan mudah. Air adalah sesuatu yang harus dicari, disimpan dengan hati-hati, dan seringkali dibayar dengan mahal, terutama selama musim kemarau panjang ketika tanah menjadi pucat dan retak. Satu truk air bisa berharga hingga IDR 180.000 dan mungkin hanya cukup untuk seminggu atau dua minggu. Bagi rumah tangga yang memiliki ternak, kebutuhannya bahkan lebih besar.
Namun di bawah bukit-bukit kapur yang mengelilingi kalurahan, sebuah mata air bawah tanah mengalir dengan tenang sejak puluhan tahun lalu.
Tersembunyi jauh di dalam Gua Wuluh Kumet, air itu cukup dekat dan bisa didengar bergema di dalam gua, tetapi jauh di luar jangkauan bagi sebagian besar masyarakat. Sumber air itu pernah disurvei sebelumnya, dijanjikan untuk dimanfaatkan, dan dibicarakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap kali dibicarakan, ada harapan yang bangkit. Tapi tak lama setelahnya, harapan itu pudar lagi.
Bagi banyak orang di Padukuhan Gebang, mata air itu menjadi simbol kemakmuran dan frustasi: sumber kehidupan yang terasa tak terjangkau.
Hingga kalurahan memutuskan untuk mencoba mengusahakan lagi. Kali ini, bersama-sama.
Perjalanan Panjang Penantian

Kalurahan Girisuko terdiri dari sembilan padukuhan. Meskipun beberapa padukuhan masih memiliki akses ke air permukaan, Padukuhan Gebang diakui sebagai salah satu yang paling rentan. Medan yang sulit membuat sumur dangkal tidak mungkin, dan pipa air yang dibangun oleh pemerintah sebelumnya tidak pernah mencapai area tersebut sepenuhnya.
Selama bertahun-tahun, berbagai rencana muncul melalui usulan pemerintah lokal, program pengembangan, bahkan diskusi dengan perusahaan air regional. Namun, tantangannya justru semakin banyak. Gua tersebut terletak di kawasan hutan lindung dan dalam ekosistem karst yang sensitif, yang artinya memerlukan izin kompleks dan regulasi lingkungan. Ketika COVID-19 melanda, kesempatan pun kembali memudar.
Bagi banyak orang, air dari Gua Wuluh Kumet mulai terasa seperti ide yang indah tapi tak akan pernah menjadi kenyataan.
Namun, masyarakat tidak menyerah.
Memilih untuk Memulai Sendiri
Alih-alih menunggu lembaga besar bertindak, pemimpin kalurahan dan warga mulai menjajaki apa yang dapat mereka lakukan sendiri. Melalui diskusi di tingkat kalurahan, Gebang diprioritaskan sebagai padukuhan yang paling membutuhkan. Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) membentuk tim teknis yang terdiri dari perwakilan lokal, pejabat kalurahan, dan anggota masyarakat.
Di saat itu, ASB South and South-East Asia (ASB S-SEA) mulai mendukung kegiatan di Kalurahan Girisuko melalui program Seger Waras sebagai bagian dari inisiatif global ECT WASH yang dilaksanakan di 14 negara, serta didanai oleh Kementerian Luar Negeri Jerman dan Aktion Deutschland Hilft. Bukan membawa solusi siap pakai, program ini bekerja bersama struktur lokal, membantu masyarakat mengidentifikasi prioritas dan menguraikan proses yang kompleks.
Salah satu tantangan terbesarnya adalah perizinan.
“Karena mata air berada di dalam kawasan karst dan zona hutan produksi, perizinan memakan waktu hampir setahun. Bahkan Dinas Lingkungan Hidup mengatakan mereka belum pernah menangani kasus seperti ini, mengambil air dari dalam gua untuk kebutuhan masyarakat,” Fahrunisaa Kadir (Nisa) menjelaskan selaku Project Officer.
Proses perizinan yang panjang ini dimulai pada awal 2025.
Kalurahan harus berkoordinasi dengan lembaga lingkungan terkait, menjelaskan bahwa air akan digunakan murni untuk kebutuhan masyarakat, bukan tujuan komersial, dan melalui sistem perizinan online nasional.
“Ada banyak pembahasan tentang kategori izin yang digunakan,” kata Nisa. “Bahkan lembaga-lembaga tersebut jarang menangani kasus seperti ini, mengambil air dari dalam gua di kawasan terlindungi.”
Namun, selangkah demi selangkah, izin-izin tersebut akhirnya diperoleh.
Menjelajahi Bawah Tanah

Tantangan berikutnya bersifat teknis: bagaimana mengangkat air dari dalam gua yang dalam.
ASB S-SEA melalui program Seger Waras mendukung proses ini dengan menghubungkan kalurahan dengan penjelajah gua berpengalaman dan ahli teknis, Kamajaya. Bersama relawan masyarakat, mereka turun ke Gua Wuluh Kumet, memasang pompa submersible di aliran bawah tanah.
Sistem ini dirancang dengan cermat. Air pertama-tama dipompa dari gua ke tangki penampungan di dekat mulut gua, di mana air melewati lapisan filtrasi alami berupa kerikil dan serat. Dari sana, pompa kedua mendorong air sejauh satu kilometer ke reservoir di atas pemukiman.
Dari reservoir ini, rencananya air akan didistribusikan melalui pipa utama ke rumah-rumah di blok barat dan timur Padukuhan Gebang.
Untuk saat ini, air dapat mencapai reservoir itu sendiri sudah merupakan kemenangan besar.
Kekuatan Gotong Royong
Selama konstruksi, semangat gotong royong terasa di mana-mana.
“Upaya ini bukan hanya dibangun oleh tim teknis atau perusahaan desa. Semua warga Padukuhan Gebang bekerja sama. Beberapa sebagai tukang bangunan, yang lain sukarela membantu. Seluruh masyarakat ikut serta dalam mewujudkan sistem air ini.” kata Nisa.
Ada juga banyak masyarakat lain yang siap siaga selama operasi pompa, membantu menarik tim keluar dari gua menggunakan tali.
Hal ini tentu sangat melelahkan secara fisik dan menegangkan secara emosional.
Hasilnya, upaya pertama untuk mengangkat air tidak berhasil. Upaya kedua pun masih belum berhasil.
“Harapan naik, lalu turun,” kata Wahyu, sang Bu Carik atau Sekretaris Kalurahan. “Kami selalu khawatir, bagaimana kalau gagal lagi?”
Tapi pada Januari, dengan penuh susah payah, sesuatu akhirnya berubah.
Air berhasil naik ke atas.
Ketika Air Akhirnya Datang
Ketika air jernih mengalir ke reservoir untuk pertama kalinya pada pertengahan Januari 2026, ketidakpercayaan berubah menjadi kegembiraan.
“Ketika air akhirnya naik, semua orang dipenuhi rasa syukur. Beberapa menangis, beberapa tertawa, dan banyak yang langsung mandi di bawah air yang mengalir. Rasanya tidak nyata. Selama ini air ada di sana, tapi rasanya begitu jauh,” kata Nisa.
Bagi perempuan khususnya, yang sering kali menanggung beban harian mengelola air rumah tangga, momen itu sangat emosional.
“Air adalah kehidupan,” kata Wahyu. “Sebagai perempuan dan sebagai pejabat kalurahan, saya telah melihat betapa sulitnya orang-orang berjuang hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar ini. Sekarang, rasanya lebih dekat dan lebih mudah.”
Bukan Akhir, Tapi Awal Baru
Meskipun air telah mencapai bendungan, perjalanan belum selesai. Fase berikutnya adalah melakukan pembangunan sambungan rumah tangga agar air dapat mengalir langsung ke rumah-rumah. ASB S-SEA melalui program Seger Waras dan desa kini berkoordinasi dengan program pemerintah dan mitra potensial untuk mendukung jaringan distribusi akhir ini.
Ada juga rencana untuk melatih anggota masyarakat dalam pengoperasian dan pemeliharaan sistem agar pompa, panel surya, dan sistem filtrasi dapat dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat itu sendiri. Para anak muda juga akan diperkenalkan pada keterampilan dasar gua dan teknis, sehingga pemeliharaan di masa depan tidak bergantung pada ahli dari luar kalurahan.
Lebih dari Sekadar Infrastruktur
Sistem air di Padukuhan Gebang bukan hanya tentang pipa dan pompa. Tapi mewakili tahun-tahun kesabaran, upaya kolektif, dan tekad masyarakat.
Hal ini menunjukkan apa yang dapat terjadi ketika masyarakat berhenti menunggu solusi dan malah menjadi bagian dari pembangunannya, didukung oleh organisasi seperti ASB S-SEA yang berfokus pada penguatan kapasitas lokal, bukan menggantikannya.
Dari mengurus izin yang rumit hingga mengangkut peralatan melalui gua, setiap langkah berhasil dilakukan melalui kolaborasi.
Apa yang dulu terasa mustahil kini mengalir secara stabil ke reservoir di atas kalurahan.
Segera, jika semuanya berjalan lancar, air akan mengalir langsung ke rumah-rumah.
Dan bagi warga Padukuhan Gebang, air tidak akan lagi menjadi perjuangan sehari-hari. Air ini adalah kemenangan bersama, yang diambil dari dalam bumi tempat mereka tinggal dan hidup selama ini.