Photovoice Masyarakat Gebang: Pengangkatan Air Aman Konsumsi di Gua Wuluh Kumet, Gunungkidul

Gambar 1. Penempatan Selang

Foto ini menunjukkan pelaksanaan salah satu program ASB yang masuk di wilayah kami, Padukuhan Gebang, Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, yaitu program pengangkatan sumber air Wuluh Kumet.

Padukuhan Gebang merupakan satu dari sembilan padukuhan yang berada di wilayah Kalurahan Girisuko. Padukuhan lainnya meliputi Temuireng 1, Temuireng 2, Sanglor 1, Sanglor 2, Pacar 1, Pacar 2, Sumber, dan Turunan. Padukuhan Gebang sendiri merupakan ibu kota kalurahan karena kantor kalurahan terletak di wilayah ini. Secara administratif, Padukuhan Gebang terbagi menjadi enam RT dengan jumlah 178 KK.

Masuknya ASB ke Kalurahan Girisuko terasa seperti membawa angin segar bagi masyarakat, khususnya warga Padukuhan Gebang. Sudah sangat lama masyarakat mengalami kekurangan air setiap musim kemarau datang. Kondisi ini telah terjadi selama puluhan tahun, bahkan lintas generasi.

Berbagai upaya telah dilakukan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air, baik untuk konsumsi, mandi, mencuci, maupun kebutuhan pokok lainnya. Mulai dari memanfaatkan bak tadah hujan, membeli air tangki, hingga mencari bantuan air melalui lembaga pemerintah, pihak pribadi, maupun swasta.

Upaya lain juga pernah dilakukan, seperti pengeboran di lokasi yang dianggap memiliki potensi sumber air, namun tidak membuahkan hasil. Percobaan pengangkatan air dari salah satu mata air di dalam goa yang dahulu menjadi satu-satunya sumber air di wilayah Padukuhan Gebang, yaitu Goa Tuk Sarining Gebang, juga pernah dilakukan bekerja sama dengan pihak ketiga. Namun, usaha tersebut tidak dapat dilanjutkan karena debit air tidak mencukupi untuk dialirkan ke rumah-rumah warga.

ASB & Wuluh Kumet

Wuluh Kumet adalah nama salah satu goa di wilayah kehutanan Girisuko yang masih berada dalam satu kawasan dengan Padukuhan Gebang. Berdasarkan keterangan masyarakat dan beberapa orang yang pernah memasuki goa tersebut, di dalamnya terdapat sumber air yang sangat besar dan melimpah. Sumber air ini sebenarnya sudah lama tersimpan di bawah tanah.

Namun karena lokasinya berada di kawasan hutan dan berjarak kurang lebih 1,2 kilometer dari pemukiman, sumber air ini belum dapat dimanfaatkan. Selain jarak, akses menuju lokasi serta kondisi goa juga menjadi kendala dalam upaya pemanfaatannya.

Selama bertahun-tahun, masyarakat melalui perwakilan tokoh dan pemerintah kalurahan telah berulang kali mengajukan proposal untuk memanfaatkan sumber air di Wuluh Kumet. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Berbagai kendala dihadapi, seperti belum adanya penelitian profesional terkait jenis dan debit air, persoalan perizinan, data yang belum maksimal dan akurat, serta perencanaan yang belum terarah.

Berbagai cara telah ditempuh. Hingga akhirnya, pada tahun 2025 ini, ASB hadir dengan program prioritas Pengangkatan Air Wuluh Kumet. Program ini berhasil menangani berbagai kendala yang sebelumnya sulit direalisasikan, mulai dari tahap perancangan, penelitian, perizinan, hingga eksekusi pelaksanaan.

Dengan penuh keyakinan, usaha, dan kerja sama antara masyarakat, pemerintah kalurahan, dan ASB, berbagai tahapan telah dilaksanakan. Selama satu tahun, ASB melakukan observasi, pendampingan, pengawalan, hingga pelaksanaan program prioritas ini. Saat ini, tahapan yang sedang berjalan adalah persiapan pembangunan bak penampungan (reservoir).

Gambar 2. Gotong Royong Pengangkatan Material

Rencana proses pengangkatan air ini adalah sebagai berikut: air disedot dari dalam Goa Wuluh Kumet menggunakan mesin, kemudian dimasukkan ke dalam bak penampung. Selanjutnya, air didorong menggunakan mesin pendorong melalui pipa yang mengarah ke bak utama (reservoir) sejauh kurang lebih 1,2 kilometer, dari kawasan hutan menuju pemukiman.

Budaya gotong royong masyarakat, dukungan kebijakan dan regulasi dari pemerintah, serta pendampingan program dari ASB diharapkan menjadi kolaborasi yang kuat untuk merealisasikan pengangkatan air Wuluh Kumet.

Gambar 3. Bimbingan Teknis Pembuatan Bak Reservoir oleh ASB

Harapannya, dengan terwujudnya program ini, Padukuhan Gebang tidak lagi mengalami kekurangan air setiap musim kemarau. Semoga ke depan, Padukuhan Gebang benar-benar menjadi padukuhan yang makmur, sejalan dengan semangat: “Girisuko Jaya, Padukuhan Gebang, Makmur.”

Credit:
Photovoice oleh Ratmi Ningsih dan Yoko Prasetyo (Masyarakat Padukuhan Gebang), bagian dari Program Seger Waras yang dilaksanakan ASB S-SEA dengan dukungan Aliansi Organisasi Bantuan Kemanusiaan Jerman (ADH), Kementerian Luar Negeri Republik Federal Jerman (GFFO), Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, Pemerintah Daerah DIY, dan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

Share this article