
Gordianus, seorang petani sekaligus penyandang disabilitas, pernah berada di titik di mana ia merasa tidak memiliki tempat. Dalam kesehariannya, ia jarang dilibatkan dalam kegiatan masyarakat. Tidak hanya itu, stigma yang datang dari lingkungan sekitar bahkan keluarga, perlahan membentuk cara pandangnya terhadap diri sendiri. Ia menjadi ragu, menarik diri, dan merasa bahwa pendapatnya tidak penting.
Situasi ini membuatnya terbiasa diam bukan karena tidak punya gagasan, tetapi karena tidak yakin bahwa suaranya akan diterima. Perubahan mulai terasa ketika Gordianus terlibat dalam berbagai kegiatan di desa yang membuka ruang partisipasi yang lebih luas. Untuk pertama kalinya, ia merasakan pengalaman yang berbeda: hadir, didengar, dan dihargai.
“Dulu saya ragu untuk berbicara, bahkan bertemu orang lain. Tapi sekarang saya mulai berani,” kurang lebih itulah perubahan yang ia rasakan.
Melalui proses tersebut, kepercayaan dirinya tumbuh perlahan. Ia tidak hanya mulai berani menyampaikan pendapat, tetapi juga mengambil peran yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan, menjadi fasilitator lokal dalam kegiatan sosialisasi di kampung-kampung. Dalam peran ini, ia berdiri di depan banyak orang, menyampaikan materi, dan memfasilitasi diskusi.
Sebuah lompatan besar dari seseorang yang dulu merasa tidak terlihat.
Pengalaman ini tidak hanya mengubah dirinya, tetapi juga cara orang lain memandangnya. Dukungan dari peserta lain, termasuk kelompok perempuan yang memberi semangat saat ia memfasilitasi, menjadi penguat bahwa ia tidak sendiri. Lingkungan yang lebih terbuka membuatnya merasa lebih diterima sebagai bagian dari komunitas.
Perubahan juga menyentuh kehidupan personalnya. Materi tentang pembagian peran dalam keluarga memberinya perspektif baru, yang kemudian ia coba praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, perubahan mulai terlihat di tingkat komunitas. Dalam ruang-ruang adat seperti rumah gendang (rumah utama untuk acara adat Manggarai) yang sebelumnya sangat terbatas bagi kelompok tertentu mulai muncul kesadaran untuk membuka partisipasi yang lebih inklusif, termasuk bagi perempuan. Bagi Gordianus, ini menjadi tanda bahwa perubahan tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga pada cara komunitas memandang partisipasi.
Namun, perjalanan ini juga menghadirkan pembelajaran penting. Salah satu tantangan yang masih dirasakan adalah keterbatasan aksesibilitas dalam penyampaian materi, khususnya bagi peserta dengan hambatan penglihatan. Penggunaan slide presentasi seringkali sulit diikuti, sehingga ia harus lebih mengandalkan penjelasan lisan atau bertanya kepada fasilitator. Pengalaman ini menegaskan bahwa ruang partisipasi yang terbuka perlu diiringi dengan dukungan akses yang setara. Tanpa itu, keterlibatan yang bermakna belum sepenuhnya tercapai.
Bagi Gordianus, pelajaran paling berharga dari perjalanan ini sederhana, namun mendalam:
“Dulu kami kira tidak ada yang memperhatikan penyandang disabilitas. Tapi ternyata ada. Kami jadi merasa tidak terpojok.”
Perasaan “diperhatikan” ini menjadi titik balik bukan hanya tentang kehadiran program, tetapi tentang bagaimana ruang aman, penghargaan, dan kesempatan dapat memulihkan rasa percaya diri seseorang.
Author: Jane Tampubolon (MEAL Officer for HARMONI Project)