YOGYAKARTA — Dua puluh tahun bukanlah rentang waktu yang singkat. Bagi ASB (Arbeiter-Samariter-Bund) South and South-East Asia, dua dekade kehadiran di Indonesia merupakan sebuah perjalanan yang sarat makna. Dimulai dari kepedulian di tengah reruntuhan, bertumbuh menjadi pelopor pengurangan risiko bencana secara inklusif, dan kini menjadi organisasi kunci di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan.
Pada 11 Juni 2026, ASB menyelenggarakan Dialog 20 Tahun: Dampak, Pembelajaran, dan Arah Masa Depan Inklusif dengan tema “Bersama Membangun Ketangguhan Inklusif” di Hotel Loman, Yogyakarta. Acara reflektif ini dihadiri oleh 79 peserta secara luring—terdiri dari staf ASB, mitra Organisasi Penyandang Disabilitas (OPDis), mitra pemerintah, perwakilan NGO—serta sekitar 40 peserta yang bergabung secara daring. Lebih dari sekadar perayaan, kegiatan ini menjadi ruang untuk berhenti sejenak, menengok kembali jejak perubahan, dan merumuskan arah masa depan yang lebih inklusif.
“Harapan saya, kegiatan hari ini bisa menjadi dialog untuk tidak saja melihat ke belakang merayakan apa yang sudah kita capai bersama, tapi juga sama-sama melihat ke depan, membayangkan arah ke depannya,” ujar Chrysant Lily Kusumowardoyo, Regional Director ASB South and South-East Asia, dalam sambutan pembukaannya.
Dari Respons Darurat Menuju Ketangguhan yang Inklusif
Perjalanan ASB di Indonesia berawal dari satu momen krusial: gempa bumi dahsyat yang mengguncang Yogyakarta dan Klaten pada tahun 2006. Hadir pertama kali sebagai lembaga respons darurat melalui bantuan nontunai dan pembangunan sekolah sementara, ASB dengan cepat berevolusi untuk merespons kebutuhan jangka panjang.

Pada tahun 2007, ASB menginisiasi program kesiapsiagaan darurat sekolah yang menjangkau 2.047 sekolah dasar di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta. “Kalau tiap sekolah ada 1 guru yang semangat, itu sudah 2.047 agen perubahan!” kenang Rani dan Rofikul—dua staf senior ASB yang menjuluki diri mereka sebagai “artefak hidup” perjalanan organisasi sejak 2007—dalam paparan nostalgia yang mengawali acara.
Dari sinilah kesadaran akan pentingnya pelibatan kelompok yang paling rentan bertumbuh menjadi landasan utama. ASB kemudian memantapkan posisinya sebagai pelopor Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Inklusif. Pada 2012, ASB bersama sejumlah organisasi internasional lainnya mendirikan Disability-inclusive Disaster Risk Reduction Network (DiDRRN). Ekspansi terus berlanjut hingga ke Filipina dan negara-negara Asia Selatan serta Tenggara lainnya, dengan spektrum kerja yang meluas mencakup aksi iklim, pemberdayaan sosial-ekonomi, dan respons kemanusiaan terpadu.
Saat ini, ASB dikenal sebagai organisasi dengan Lima Mandat Inklusi yang menjadi pegangan bagi pemerintah dan NGO/CSO dalam mengembangkan program berprinsip inklusi: identifikasi dan data terpilah, aksesibilitas, partisipasi bermakna penyandang disabilitas, peningkatan kapasitas, dan prioritas perlindungan.
Mengenang Dedikasi, Merayakan Kemitraan
Suasana haru menyelimuti ruangan saat seluruh peserta secara khusus memberikan penghormatan kepada Almarhumah Melina Margaretha, Country Director ASB Indonesia and the Philippines periode 2016–2021. “Dedikasi dan semangatnya telah membawa ASB berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas,” tutur Rani mengenang.
Acara ini juga menjadi panggung apresiasi bagi para pahlawan inklusi yang selama ini berjalan beriringan dengan ASB. Penghargaan simbolis diberikan kepada:

Kementerian Dalam Negeri, sebagai mitra pemerintah garda depan, memberikan kepercayaan dan dukungan tiada henti sehingga ASB terus berkarya di Indonesia. “Kemitraan strategis dengan organisasi penyandang disabilitas dan pemerintah daerah telah memperkuat tata kelola kebencanaan dan pembangunan daerah yang berpihak kepada kelompok rentan,” ujar Ahmad Fajri, S.H., M.H., Kepala Pusat Fasilitasi Kerja Sama Kemendagri dalam sambutannya secara daring.
Fidakama, sebagai OPDis teraktif yang mampu bertransformasi menjadi pemimpin bagi organisasinya sendiri, mandiri secara pendanaan, dan mencetak sejarah sebagai OPDis pertama yang menandatangani Piagam Iklim.
Paluma Nusantara, mitra setia sejak 2016, konsisten memberikan dampak nyata melalui pendekatan khas pengorganisasian masyarakat bernama “Balam” (Kelompok Berbagi Pengalaman).
Fauzi Al Khomsani menerima Lifetime Achievement Award atas pengabdian tanpa lelah selama hampir dua dekade sebagai staf terlama di ASB—sebuah perjalanan yang ia mulai dari posisi security.
Suara Perubahan dari Akar Rumput
Dampak 20 tahun kehadiran ASB tidak hanya terekam dalam laporan tahunan, tetapi juga tercermin dalam perubahan kapasitas dan pola pikir para mitra. Melalui platform interaktif Mentimeter dan papan refleksi, berbagai kisah transformasi dari akar rumput terangkum.
“Bahwa penyandang disabilitas tidak bisa dan tidak boleh lagi dipandang sebelah mata,” tulis salah satu peserta. “Sangat berubah, apalagi segala sesuatu yang berkaitan dengan inklusivitas. Sebelumnya saya tidak pernah berinteraksi dengan teman-teman yang memiliki hambatan. Sekarang saya sangat concern perihal itu.”
Peningkatan pengetahuan tentang disabilitas dan PRB, kapasitas fasilitasi inklusi, serta perubahan cara pandang menjadi tema yang paling menonjol. “Inklusi semakin dikenal oleh semua orang,” ungkap peserta lainnya.

Kasihan, pegiat inklusi dari Fidakama yang juga menjadi narasumber dalam talkshow, berbagi transformasi yang dialami organisasinya: “Rata-rata desa yang kami dampingi kini konsisten menganggarkan APBDes untuk kegiatan inklusi. Inklusi harus ada—penyandang disabilitas dapat berperan dalam pengambilan keputusan di pemerintahan desa.”
Winda Cattleya, ASN dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, menceritakan titik balik setelah diajak ASB menghadiri Konferensi Sendai di Jepang pada 2015. “Saya belajar bagaimana membantu teman-teman disabilitas naik taksi dan ke kuil. Saya juga belajar bahasa isyarat pertama dari seorang teman tuli. Dari sana, saya membawa isu inklusi ke dalam jaringan ASN Inklusi.”
Ditya Putri Pertiwi, akademisi UGM yang memulai karirnya sebagai trainer PRB di ASB, merefleksikan perjalanannya: “Jujur saya waktu itu enggak tahu ASB itu apa. Saya belajar dari ASB. Kini, inklusi sudah menjadi prinsip dan nilai penting di semua bidang.”
Sementara itu, Umi Azizah dari Paluma Nusantara mengakui: “Di proposal kami selalu bilang inklusif, tapi setelah bermitra dengan ASB ternyata yang kami lakukan itu belum seujung kuku. Inklusif masih sekadar di bibir. Di ASB, kita belajar menunjukkan bukti inklusi dan mengimplementasikannya.”
Kisah Internal: “Cerita Perubahan: Dari, Oleh, dan Untuk Kita”
Sesi talk show kedua menghadirkan tiga staf ASB yang ceritanya terpilih dari 22 cerita perubahan yang dikumpulkan. Kak Mengti, yang bergabung pada 2021, menceritakan pengalaman pertamanya di Palu: “Saya belajar untuk mendengarkan, bertanya bagaimana membantu teman-teman netra. Dinamika dengan teman-teman OPD membawa saya pada refleksi bahwa kerja-kerja kemanusiaan ini pada akhirnya tentang memanusiakan manusia.”

Kak Ani, finance assistant yang bergabung pada 2024, berbagi momen “terjun langsung” pertamanya dalam respons darurat: “Biasanya saya cuma lihat dari angka dan laporan. Tapi pas ke lapangan, melihat masyarakat kena dampak, ibu-ibu bawa jerigen, anak-anak di sekitar lokasi pendistribusian air—saya terharu. Angka-angka itu ternyata lebih manusiawi.”
Mas Fauzi, staf terlama sejak 2007, mengisahkan perjalanannya dari security hingga terlibat dalam berbagai program ASB. “Saya cuma berpikir ini lembaga besar, saya harus bekerja maksimal. Tapi seiring waktu, saya belajar tentang Sky Hydrant dan program-program lainnya. Ini seperti motor tua penuh kenangan,” ujarnya sambil tersenyum.
Menatap Dua Dekade ke Depan
Di akhir acara, peserta merumuskan lima rekomendasi strategis untuk arah pengembangan ASB ke depan. Pertama, perluasan dampak dan jangkauan program—memperluas wilayah kerja ke daerah baru dan daerah rawan bencana yang berdampak nasional. “Meng-Indonesiakan inklusi,” demikian salah satu harapan yang menggema.
Kedua, penguatan kolaborasi dan kemitraan dengan pemerintah, NGO, CSO, dan OPDis, termasuk bergabung dalam platform koordinasi kemanusiaan seperti HCP (Indonesia Humanitarian Coordination Platform).
Ketiga, konsistensi dan kepemimpinan dalam isu inklusi. “Jangan berhenti sebelum Indonesia menjadi inklusif,” tulis salah satu peserta. ASB didorong untuk tetap menjadi pelopor PRB yang inklusif dan mengarusutamakan inklusi disabilitas dalam setiap program.
Keempat, pemberdayaan dan partisipasi kelompok berisiko tinggi dilakukan dengan memberikan ruang yang lebih besar bagi disabilitas, perempuan, dan pemuda—bukan sekadar sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai aktor dan pengambil keputusan.
Kelima, penguatan program dan inovasi tematik. Sebagian peserta merekomendasikan agar ASB mulai memimpin ketangguhan iklim yang inklusif: “Jika 20 tahun pertama banyak fokus pada PRB dan kemanusiaan yang inklusif, maka harapan untuk 20 tahun berikutnya, ASB dapat berperan untuk memimpin ketangguhan iklim yang inklusif.”
Akhir Kata: Ketangguhan Hanya Terwujud Jika Inklusif

Seperti yang ditegaskan dalam pidato Ahmad Fajri dari Kemendagri: “Ketangguhan sejatinya hanya terwujud ketika semua orang, termasuk penyandang disabilitas, kelompok lansia, ibu hamil, anak-anak, dan kelompok marjinal lainnya, dilibatkan, didengarkan, dan hak-haknya diakomodasi.”
Bagi Indonesia, negara yang dikelilingi oleh bentang rawan bencana, ketangguhan yang eksklusif adalah mustahil. Mewujudkan masyarakat yang inklusif, berdaya, dan tangguh bukanlah sekadar mimpi atau jargon, melainkan kebutuhan mutlak untuk memastikan bahwa semua orang memiliki tempat, akses, dan kesempatan yang setara untuk bertahan dan berkembang.
Dua puluh tahun mungkin baru dipandang sebagai fase pendewasaan yang masih awal. Namun bagi ASB, momen ini adalah titik pijak yang kokoh untuk berlari lebih jauh, memastikan tidak ada yang tertinggal di belakang.
Sebagaimana disampaikan Kak Lily dalam penutupnya: “Kami belajar apa pun bidang kerjanya, inklusi disabilitas akan selalu menjadi jangkar yang menuntun arah ASB ke depan.”
Selamat ulang tahun, ASB.