
Pada 5 Oktober 2026, ASB S-SEA menyelanggarakan Lokakarya Diseminasi Program Seger Waras. Empat orang dari desa lokasi program membagikan cerita dari desa masing-masing dalam format TED Talk. Salah satunya Wahyu Setyoningsih, Carik Kalurahan Girisuko, Gunungkidul, menceritakan bagaimana desanya di kawasan karst berhenti menghabiskan ratusan juta rupiah untuk membeli air dan mengapa proyek fisik saja tidak pernah cukup.
Wahyu Setyoningsih mengawali ceritanya dari masa kecil. Pada awal 1990-an, ia tinggal di rumah di atas bukit kecil yang dikelilingi hutan negara yang masih lebat. Ia senang berteriak sekencang-kencangnya pada pagi hari hanya untuk mendengar gema suaranya memantul dari hutan.
Lalu ia berlari ke telaga dekat rumah untuk mandi, belajar berenang, dan bermain bersama teman-teman. Dari telaga itu pula warga mengambil air untuk minum dan memasak. Saat kemarau, mereka membuat belik, sumur kecil sedalam kurang dari satu meter, untuk mendapat cadangan air. Kenangan itu tinggal cerita ketika penebangan liar besar-besaran terjadi. Kekeringan panjang terus terjadi. Akses terhadap air pun semakin sulit.
Dari pengalaman tiga tahun bersama Program Seger Waras, Wahyu berbagi enam pelajaran tentang mengapa memahami perubahan iklim itu penting.
1. Perubahan iklim bukan isu yang jauh
Sekitar tahun 1999, penebangan liar besar-besaran terjadi di sekitar desanya. Dampaknya langsung terasa. Musim kemarau menjadi panas, gersang, dan kering. Telaga tidak lagi mampu menampung air lama-lama, dan belik tidak bisa lagi dibuat di sekitarnya.
Ironisnya, Girisuko berada di kawasan karst yang menyimpan banyak air.
“Bisakah Bapak-Ibu membayangkan, tepat di bawah kita terdapat begitu banyak air, di kedalaman 42 meter di dalam gua-gua gelap. Tetapi kami sangat sulit untuk membawanya ke rumah, ke dapur, ke kamar mandi.”
2. Ini krisis tiga lapis
Kemarau di Girisuko bisa berlangsung sekitar enam bulan. Selama itu, warga membeli air dengan truk tangki 5.000 liter. Wahyu menghitung, totalnya mencapai sekitar Rp345 juta dalam enam bulan, hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Bagi warga yang sebagian besar petani tadah hujan, banyak di antaranya keluarga kurang mampu, lansia, dan penyandang disabilitas, beban itu sangat berat.
“Ketika kita renungkan, apakah ini sekadar krisis air? Ternyata tidak. Ini adalah krisis tiga lapis: iklim yang semakin ekstrem, keterbatasan sarana dan prasarana, dan terpinggirkannya kelompok rentan.”
3. Proyek fisik asal-asalan tidak akan solutif
Banyak orang mengira solusinya sederhana: buat sumur besar, pasang pompa, selesai. Kenyataannya, beberapa proyek sumur bor di wilayah itu gagal sebelum airnya sempat dinikmati. Mesin rusak karena cuaca ekstrem dan listrik yang sering padam membuat pasokan air tidak menentu.
“Setiap kali kita membuat sebuah kebijakan, tentu harus mempertimbangkan dan melibatkan kekuatan alam yang ada, dan juga hati nurani manusia.”
Dari situ lahir pendekatan Seger Waras yang memadukan tiga hal: teknologi yang cerdas, solusi berbasis alam, dan kepedulian sosial.
4. Pilih teknologi ramah lingkungan dan peka iklim
“Kita tidak memerlukan teknologi yang super mahal,” kata Wahyu. Yang dibutuhkan adalah teknologi sederhana yang tahan cuaca.
Air dari Gua Wuluh di Padukuhan Gebang diangkat dengan sistem pompa hibrida. Panel surya berkapasitas 12.200 watt bekerja saat matahari terik, dan listrik PLN 7.700 watt mengambil alih saat mendung atau malam. Air disaring dengan biofilter hingga pH dan kadar kapurnya normal, ditampung di reservoir 20 meter kubik, lalu dialirkan lewat pipa sepanjang lebih dari 1.000 meter ke rumah-rumah warga.
5. Teknologi sehebat apapun akan hancur jika alamnya tidak dirawat
Melalui program Seger Waras, warga diajak menjaga apa yang sudah dibangun dengan konservasi: menanam bambu dan pohon penyerap air di sekitar sumber air. Di sepanjang jalur pipa, mereka menanam serai sebagai penanda, agar pipa tidak rusak karena terinjak atau karena orang membakar sampah di atasnya. Ke depan, kawasan sumber air ini diproyeksikan menjadi hutan lindung.
“Ketika alam sudah memberikan banyak kepada kita, ketika alam sudah menjaga infrastruktur yang kita bangun, maka tugas kitalah untuk menjaga kelestarian alam tersebut.”
6. Mulai dari yang paling membutuhkan
Wahyu menyebut kepedulian sosial sebagai “jantung” dari seluruh gerakan masyarakat. Pembangunan sering kali melupakan siapa yang paling membutuhkan. Pipa kerap hanya dipasang di sepanjang jalan raya, sementara lansia atau pengguna kursi roda harus berjalan beberapa meter untuk mengambil air.
Tim mendata warga dari rumah ke rumah, lalu memasang pipa sampai ke depan rumah. Lebih dari 60% warga berisiko tinggi, termasuk lansia dan perempuan, terlibat dari perencanaan, pembangunan, hingga pemeliharaan. KPSPAM Girisuko bahkan diketuai oleh seorang perempuan.
Hasilnya, 192 kepala keluarga (712 jiwa), termasuk 156 lansia dan beberapa penyandang disabilitas, kini bisa mengakses air bersih langsung di rumah masing-masing.
“Coba Bapak-Ibu bayangkan kebahagiaan seorang ibu tua yang memasak dan hanya tinggal memutar keran di dapurnya.”
Uang ratusan juta yang dulu habis oleh pemerintah desa dan warga untuk membeli air kini bisa dialihkan untuk pendidikan dan gizi keluarga.
Bukan keajaiban, melainkan pilihan kebijakan
Wahyu menutup dengan pesan untuk para pengambil kebijakan.
“Ini bukan hanya sekadar cerita keajaiban. Ini adalah pilihan kebijakan. Krisis air tidak akan pernah selesai hanya dengan rapat-rapat di ruang ber-AC. Krisis air akan selesai ketika kita benar-benar turun ke lapangan, melihat siapa yang paling membutuhkan, dan tidak membiarkan siapa pun tertinggal.”
Pelajaran dari Girisuko: kita tidak perlu memilih antara menjaga alam atau membangun infrastruktur. Keduanya bisa berjalan bersama, selama manusia, terutama yang paling rentan, ditempatkan di pusatnya.
“Air yang mengalir untuk semua adalah tentang martabat, keadilan, dan masa depan.”