
Pada 5 Oktober 2026, ASB S-SEA menyelanggarakan Lokakarya Diseminasi Program Seger Waras. Empat orang dari desa lokasi program membagikan cerita dari desa masing-masing dalam format TED Talk. Salah satunya Suharyanta, Lurah Ngalang, Gunungkidul, berbagi bagaimana melibatkan penyandang disabilitas mengubah cara ia menjalankan pemerintahan dan tanggung jawab apa yang datang bersamanya.
Sebelum menjadi lurah, Suharyanta pernah menjadi sopir truk tangki air. Ia mengantar bantuan air ke dusun-dusun di Ngalang yang letaknya di atas tanjakan curam. Tangki 5.000 liter yang terisi penuh tidak kuat menanjak. Kalau isinya dikurangi, air di dalamnya berguncang dan membuat truk sulit dikendalikan.
Suharyanta menggunakan ceritanya untuk memberi gambaran masalah yang sudah ada sejak lama di Ngalang: akses air bersih. Tiga tahun bersama Program Seger Waras, Suharyanta merasakan banyak perubahan, mulai dari air bersih dan kesiapsiagaan bencana hingga cara ia memandang warga penyandang disabilitas. Berikut lima pelajaran dari Ngalang yang dibagikan oleh Suharyanta.
1. Pemimpin juga perlu belajar dan berani mengakui ketidaktahuan
Suharyanta terbuka mengakui bahwa di awal program, ia belum memahami maksud dan tujuan ASB. Pemahaman itu tumbuh seiring proses.
“Terima kasih kepada ASB yang telah membuka mata saya, membuka pikiran saya, membuka wawasan dan pemahaman saya tentang bagaimana saya menjalankan roda pemerintahan di Kalurahan Ngalang.”
Perubahan sebuah desa sering kali dimulai dari kesediaan pemimpinnya untuk belajar hal baru.
2. Libatkan secara aktif
Dengan dukungan forum disabilitas tingkat kabupaten, Ngalang membentuk forum disabilitas kalurahan bernama Difa Ngalang Sejahtera. Selama dua tahun terakhir, anggotanya dilibatkan dalam setiap kegiatan.
“Rekan-rekan yang berisiko tinggi ataupun disabilitas saya ajak memikirkan bagaimana kita mengelola kalurahan ini agar lebih maju. Nyatanya hasilnya juga luar biasa.”
Keterlibatan ini tidak berhenti di menghadiri undangan rapat, tetapi keterlibatan secara aktif. Di Ngalang, Kelompok Pengelola Sarana Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (KPSPAM) bahkan diketuai oleh seorang penyandang disabilitas, Pak Giyanto.
3. Mengundang berarti bertanggung jawab atas aksesnya
Suharyanta menyadari, mengajak penyandang disabilitas terlibat punya konsekuensi. Tempatnya harus bisa diakses. Kantor Kalurahan Ngalang kini sudah aksesibel. Toiletnya pun sudah diuji coba langsung oleh pengguna kursi roda bernama Yaqub dari Forum Disabilitas Tanggap Bencana (FDTB) Gunungkidul.
“Untuk mengajak rekan-rekan Difa Ngalang Sejahtera ini, saya juga harus bertanggung jawab untuk membuat tempat yang aksesibel.”
4. Pembentukan organisasi disabilitas saja tidak cukup, harus ada kegiatan dan anggaran
Dua minggu sebelum sesi berformat TED Talk ini, Ngalang menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Warga sendiri mengusulkan dua prioritas utama: penanganan stunting dan anggaran untuk kegiatan kelompok disabilitas.
“Setelah sudah ada SK (Surat Keputusan), sudah ada kelompoknya, tapi juga harus wajib ada kegiatannya.”
Salah satu partisipan lokakarya, Pak Taufik dari Forum PRB Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menegaskan hal serupa. Inklusi perlu diterjemahkan ke dalam tata kelola: mengakui keberadaan warga penyandang disabilitas, mengundang mereka dalam musyawarah, memberi ruang afirmasi, dan mengalokasikan anggaran. Menurutnya, dibutuhkan adalah kemauan yang kuat dari pemangku kepentingan untuk melakukan hal-hal tersebut.
5. Lingkungan yang sehat adalah bagian dari kesiapsiagaan
Ngalang berisiko terhadap berbagai bencana seperti banjir, longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan. Kini kalurahan sudah memetakan risiko, menyiapkan titik kumpul, dan menandai warga kelompok rentan: penyandang disabilitas, balita, ibu hamil, dan lansia. Simulasi banjir sudah dijalankan, dan Forum PRB serta Linmas siaga.
Pengelolaan sampah juga berubah. Sebagian besar lahan di Ngalang adalah hutan rakyat yang ditanami jati. Saat kemarau, guguran daunnya dulu sering dibakar begitu saja, dan api kerap merembet menjadi kebakaran hutan. Bersama Seger Waras, warga kini mengolah daun-daun itu menjadi kompos.
“Untuk tahun ini, alhamdulillah, di tempat kami tidak ada membersihkan lahan dengan membakar hutan.”
Soal air, Suharyanta yakin kualitasnya kini jauh lebih baik dibanding tiga tahun lalu, termasuk untuk dusun-dusun di atas tanjakan yang dulu sulit dijangkau tangki.
Menjaga agar inklusi tetap berjalan
Seger Waras akan segera berakhir. Tapi bagi Suharyanta keberpihakan pada penyandang disabilitas harus tetap menjadi komitmen bahkan ketika pemimpin desa berganti. Salah satu upayanya adalah apa sudah dilakukan oleh Pemerintah Desa Ngalang sejauh ini yaitu membuat forum yang memiliki legalitas seperti SK, kegiatan yang masuk anggaran, dan gedung yang bisa diakses semua orang. Harapannya, inklusi yang sudah melembaga tidak bergantung pada siapa yang menjabat.