Gunungkidul, 29 Juli 2026 — Arbeiter-Samariter-Bund South and South East Asia (ASB S-SEA) menerima kunjungan lapangan delegasi dari the ASEAN Committee on Disaster Management (ACDM) Working Group on Prevention and Mitigation, ACDM Working Group on Preparedness, Response, and Recovery (ACDM WG PRR), Sekretariat ASEAN, AHA Centre, dan Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia di lokasi program Seger Waras yaitu Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Seger Waras merupakan bagian dari program global ECT WASH (Strong Community, Strong Environment WASH) yang diimplementasikan di 14 negara. Program ini didukung oleh German Federal Foreign Office (GFFO) dan Aktion Deutschland Hilft (ADH). Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi ASB S-SEA untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan dari implementasi program Seger Waras kepada para pengambil kebijakan regional, sebagai salah satu agenda utama dalam rangkaian Cross-Learning Exchange 3 (CLE 3) di bawah program ASEAN Protection, Resilience, and Inclusion for Multi-Hazard Emergencies (ASEAN-PRIME), yang berlangsung 27–31 Juli 2026 di Yogyakarta.
ASEAN-PRIME adalah program lima tahun (2022–2027) yang didanai oleh Department of Foreign Affairs, Trade, and Development (DFATD) Pemerintah Kanada dan diimplementasikan oleh AHA Centre untuk memperkuat integrasi aspek Perlindungan, Gender, dan Inklusi (PGI), Adaptasi Perubahan Iklim (CCA), serta Keberlanjutan Lingkungan (ES) ke dalam mekanisme manajemen bencana regional ASEAN. Dalam CLE 3, delegasi dari ACDM Working Group on Prevention and Mitigation, ACDM Working Group on Preparedness, Response, and Recovery, Sekretariat ASEAN, AHA Centre, dan Pemerintah Kanada berkesempatan bertukar pengetahuan dan praktik baik lintas negara anggota. Girisuko dipilih sebagai salah satu lokasi cross-learning atas praktik baik yang telah dibangun ASB S-SEA bersama masyarakat setempat.
Melalui kunjungan ini, ASB S-SEA menunjukkan bagaimana program tersebut menjawab tantangan nyata di lapangan sepeti kondisi wilayah karst Girisuko dengan hampir 80% kawasannya berupa hutan negara yang kerap menghadapi paradoks curah hujan yang cukup tinggi namun cepat meresap ke bawah tanah, sehingga permukaan mengalami kekeringan berkepanjangan setiap musim kemarau. Riwayat kekeringan berulang sejak 2010 tercatat berdampak pada kesulitan air bersih, peningkatan kasus diare dan ISPA, gagal panen, hingga konflik sosial perebutan air antarwarga. Tanpa intervensi, 192 keluarga di Girisuko harus menanggung biaya membeli air hingga sekitar Rp345,6 juta setiap musim kemarau.
Kunjungan diselenggarakan di Pendopo milik salah satu warga bernama Pak Aan. Acara dibuka dengan sambutan dari perwakilan AHA Centre/delegasi ASEAN, dilanjutkan sambutan dari Kepala Kalurahan Girisuko (Lurah).
Setelah sesi sambutan, Tim ASB S-SEA memaparkan gambaran umum program Seger Waras termasuk konteks, pendekatan, dan capaian utamanya. Delegasi kemudian dibagi ke dalam tiga kelompok diskusi paralel dengan topik yang berbeda-beda.
Topik pertama adalah Seger Waras Nexus Programming yang dipandu oleh Wahyu Setyoningsih, Sekretaris Kalurahan Girisuko dan Nasrus Syukroni, Project Manager Seger Waras. Topik ini membahas empat pilar nexus program yang diimplementasikan di Girisuko. Pilar tersebut meliputi layanan air minum dan sanitasi (AMPL) yang peka iklim, aksi merespons peringatan dini berbasis masyarakat, solusi berbasis alam dan energi terbarukan, serta advokasi dan manajemen pengetahuan lintas pemerintah kalurahan hingga kabupaten.
“Kita sudah mengambil begitu banyak dari alam untuk dipakai di kehidupan kita, maka sudah menjadi tanggung jawab kita untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan sumber daya alam yang ada.”
— Wahyu Setyoningsih, Carik Kalurahan Girisuko
“By connecting climate action, disaster risk reduction, anticipatory action and nature-based solutions, the Seger Waras model proves that climate-resilient and sustainable WASH services are not just possible, they are already delivering real results.”
— Nasrus Syukroni, Project Manager of Seger Waras, ASB S-SEA
Topik kedua adalah Climate-Resilient Water Security & Management yang dipandu oleh Irwan Dwi Jarwanto, Kepala Urusan Perencanaan (Pangripta) Kalurahan Girisuko dan Fahrunnisa Kadir, Project Officer Seger Waras. Nisa memaparkan solusi teknis dan sosial untuk ketahanan air di kawasan karst Girisuko. Dalam hal ini termasuk sistem pompa hybrid tenaga surya-PLN yang mengangkat air dari sumber bawah tanah Wuluh Kumet sedalam sekitar 42 meter, serta pendekatan pembangunan yang dipimpin masyarakat (community-led), dengan tingkat swadaya warga lansia yang mencapai 60% dalam proses pembangunan infrastruktur.
“Perubahan iklim tidak bisa dilawan hanya dengan menebar teknologi. Infrastruktur fisik bisa dibangun dalam hitungan bulan, namun ketahanannya baru terbentuk ketika komunitas sepenuhnya berdaya untuk beradaptasi dan merawat sumber daya mereka sendiri. Infrastruktur adalah alatnya, masyarakat adalah sistem operasinya. ”
— Irwan Dwi Jarwanto, Pangripta Kalurahan Girisuko
Topik ketiga mengangkat tema Inclusive Anticipatory Action yang dipandu oleh Triyani, Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat (Kamituwo) Kalurahan Girisuko bersama Fabio Dinasti, Project Coordinator Seger Waras. Dalam topik ini dipaparkan tentang pengembangan Protokol Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD) yang inklusif sebagai pedoman operasional dalam menghadapi ancaman kekeringan. Berbeda dari cara lama yang baru bertindak setelah bencana terjadi, AMPD dirancang agar warga bisa bersiap lebih awal, dengan memanfaatkan prakiraan cuaca dan dana yang sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari, sehingga dampak kekeringan bisa ditekan sebelum benar-benar parah.
Protokol AMPD tersebut menetapkan empat tingkat status peringatan dini mulai dari level Normal, Waspada, Siaga, dan Awas dengan indikator pemicu dan ambang batas serta rangkaian aksi dini dan mekanisme pendanaan di setiap level peringatan dini. Selain itu, protokol ini mengintegrasikan pendekatan inklusif melalui strategi komunikasi peringatan dini yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat termasuk kelompok berisiko, sehingga informasi dan aksi dini dapat diakses oleh seluruh warga tanpa terkecuali.
“Kami ingin memastikan bahwa ketika terjadi kekeringan, tidak ada satupun warga termasuk kelompok berisiko yang merasa kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Melalui Protokol AMPD yang disusun secara partisipatif dan inklusif, kami membangun komitmen bersama agar setiap keluarga di Kalurahan Girisuko mendapatkan informasi, perlindungan, dan dukungan yang dibutuhkan untuk menghadapi bencana kekeringan.”
— Triyani, Kamituwo Kalurahan Girisuko
“Kekeringan bukan hanya persoalan berkurangnya ketersediaan air bersih, tetapi juga menguji sejauh mana masyarakat mampu membangun kesiapsiagaan dan ketangguhan secara kolektif. Pengembangan dan penetapan AMPD yang inklusif di Kalurahan Girisuko menjadi bukti bahwa AMPD akan lebih efektif apabila setiap warga, termasuk kelompok berisiko, memiliki akses terhadap informasi yang mudah dijangkau, ruang untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, kesempatan berkontribusi dalam aksi dini, serta hak yang sama untuk memperoleh perlindungan dan bantuan. Dengan demikian, tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam menghadapi ancaman kekeringan.”
— Fabio Dinasti, Project Coordinator of Seger Waras, ASB S-SEA
Setelah sesi kelompok berlangsung selama satu jam, ketiga kelompok kembali berkumpul dalam sesi debrief pleno untuk berbagi temuan dan catatan lintas kelompok. Salah satu partisipan membagikan kesan atas kunjungan ini.
“Saya yakin sebagian besar dari kita akan membawa pulang berbagai pembelajaran dari kegiatan ini ke daerah masing-masing. Pembelajaran tersebut akan disesuaikan dengan konteks lokal, dan tentunya akan diterapkan sesuai dengan kebutuhan dan relevansinya.”
— Jennyline Fan, Peserta CLE 3 ASEAN-PRIME
Bagi Regional Director ASB S-SEA, kunjungan ini menjadi pengingat tentang apa yang sebenarnya membuat semua ini dapat terwujud.
“Program Seger Waras telah membuktikan bahwa sesuatu yang terlihat tidak mungkin, yang sudah menjadi impian sejak bergenerasi, seperti akses air bersih di Padukuhan Gebang, Kalurahan Girisuko, ternyata bisa menjadi kenyataan berkat dukungan dari berbagai pihak. ASB dapat mengalokasikan sumber daya pendukung, tetapi tanpa dibarengi upaya masyarakat, pemerintah daerah, pemerintah kalurahan, dan banyak pihak lainnya, akses air bersih mungkin masih akan menjadi impian. Ini artinya, dalam menghadapi masa depan yang semakin kompleks, termasuk karena ancaman perubahan iklim, modal sosial seperti semangat gotong royong dan saling membantu tidak pernah boleh ditinggalkan.”
— Chrysant Lily Kusumowardoyo, Regional Director, ASB S-SEA
Bagi ASB S-SEA, kunjungan ini menjadi salah satu momen penting untuk membagikan praktik baik yang dikembangkan bersama masyarakat Girisuko yang diharapkan mampu menjadi rujukan pembelajaran regional. Pengetahuan yang dibagikan dalam sesi ini akan menjadi bagian dari laporan CLE 3 yang disampaikan kepada ACDM Working Group on Prevention and Mitigation melalui Sekretariat ASEAN dan AHA Centre, sekaligus memperkuat posisi ASB S-SEA sebagai kontributor pengetahuan dalam mekanisme berbagi pembelajaran manajemen bencana di kawasan ASEAN.